Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Monday, July 8, 2024

2023 sisi A


Rasanya aku baru saja datang kemari.

Pada masa-masa yang telah terlewati.

Dengan asa yang menderu.

Melintasi waktu menggunakan teknologi yang paling baru.


Lorong itu terlalu sendu, seperti ribuan pisau yang akan menyayat dengan pilu.

Itu kata orang-orang di masaku. Menambah rasa takut pada jiwa yang ragu.

Tapi aku tak perdulikan itu, karena aku punya rindu.

Rindu mengebu-gebu.


Aku ingin beradu lebih dahulu, lebih lamban, lebih penat.

Semua itu serupa obat, pada rasa sepiku di masa nanti.

Masa dimana kanker tidak lagi menakutkan, kemisknan bahkan sudah terlupakan.

Orang-orang hidup dalam keberadaan, kemerdekaan, kesendirian.

Tak ada sentuhan, hanya ada angan.


Angan-angan...


Sesuatu yang hanya ternilai ilusi dimasa kini.

Rupa-rupanya hanya itu yang kumiliki sedari dini, tak tahu pun sejak kapan hal itu terdistorsi.

Orang-orang panik, mencoba untuk menjajah mimpi.

Mereka tak tau bahwa aku hidup lebih dahulu di alam mimpi, alamnya para penyendiri.

Mereka terbuai pada keberadaan, pada kemiskinan yang fana, pada kanker yang tiada, pada dunia yang mengada-ada.

dan dalam kepanikan itu aku lari, dengan sembunyi-sembunyi.


Aku takut, tentu..?

Bagaimana jika mereka tau, apakah rinduku akan terenggut.

Aku ingin tau, tentu..!

Apakah waktu akan menjadi lebih lamban, lebih menyisakan penat hanya untuk melelapkan mimpi.

Mimpi para penyendiri.


(Untuk Aira)

Dolank

25 Juni 2024


Wednesday, June 30, 2021

Kangen

Ingin sekali saya menulis kembali, selayak diakhir masa remaja yang diretas kembali. Menuliskan tentang beragam hal dan rupa. Pemikiran, romantisme picisan, makanan, alam, ataupun sekedar saduran dari cerita cerita sastra yg menemani malam malam sepi di negeri rantau ketika itu. Dan tentu dalam rupa puisi ataupun prosa.

Namun ternyata menulis itu tidak sekedar bakat, bukan juga emosi yg memuncak dari rasa simpati atau terhenti di empati. Ada yang hilang dan sayangnya bagian itulah yang paling saya sukai. Kata kata unik, yang terjalin dalam irama tatkala lidah memagut di langit langit. Kata kata  sadur nan memikat dari Boris Pasternak hingga gemulai lunglai di Sutan Takdir Alisjahbana, ruang saya jatuh cinta pada karya.

Dan dengan terlampaunya waktu satu demi satu, sedikit menguakkan mengapa berjalan begitu rupa. Seorang filosof pada kanal beritanya berkata dgn jenakanya, bahwa menulis itu adalah padanan kata dari ribuan ruang yang kita baca. Sementara diriku hari ini, hanyalah tubuh dengan beragam indra yang terlena pada gambar gerak bersuara.

Dolank

1 Juli 2021

Friday, April 26, 2013

Penyakit Orang Miskin

(untuk diareku)

Setiap kali pergantian tahun saya berharap. Andai saja anda dan saya tak perlu bertemu lagi dalam setiap tahun umur saya dewasa ini. Namun delapan tahun belakangan ini kenyataan selalu berbicara lain dengan harapan. Takdir tak mau berkompromi dengan diri saya yang tak mau berurusan dengan anda lagi, makhluk-makhluk birokrasi. Semua orang tahu kenapa bisa begitu. Karena segala akan menjadi berlarut-larut dan tak pasti bila telah berkonjungsi dengan diri anda.
Cukup sudahi semua obrolan anda, karena saya semakin mengerti bahwa yang keluar dari mulut anda hanyalah kotoran belaka. Walau hadir dengan bentuknya yang lebih lembut namun tetap tak lebih daripada sekedar kotoran saja. Kotoran yang menghabiskan segala ion dalam tubuh saya. Sementara tubuh saya membutuhkan lebih banyak lagi kejutan listrik untuk selalu bisa bertransformasi dari satu waktu ke waktu yang lainnya.
Banyak orang mengenal pribadi anda yang selalu menggerogoti diri kami, kaum yang tak pernah punya apa apa. Golongan masyarakat yang tak pernah punya jadwal untuk makan dengan pasti. Dan ketika anda datangi kami, kami selalu saja tak dapat untuk bisa bersembunyi. Walaupun kehadiran anda telah kami tahu pasti melalui aroma keton yang telah memenuhi udara ini. Aroma yang hanya keluar dari mulut anda yang busuk tiada terkira.
Begitu lelah saya hari ini, karena kedatangan anda pada dinihari tadi. Teh manis pekat, sesuatu yang saya ingin suguhkan karena sepengetahuan saya itu tak anda sukai. Sayangnya hingga siang ini, barang itu belum juga saya temukan. Obat-obatan pun tak juga saya miliki. Hanya berbekal keyakinan bahwa semua ini pasti akan teratasi maka saya berani untuk duduk berdiskusi dengan anda, orang orang dari birokrasi.
Saya mengerti bahwa kecil harapan untuk anda segera beranjak pergi. Semoga kali ini anda dapat memperlakukan saya dengan lebih manusiawi.

Dolank.
23 April 2013.

Saturday, August 28, 2010

Bangsaku

Bangsa kita begitu hancur dalam segala hal, ekonomi, hukum, birokrasi, sosial, dan banyak aspek lainnya. Satu sama lain saling menyalahkan tentang kenapa hal ini terjadi, bagaimana bisa terjadi, ataupun sudah sejak kapan hingga sejauh mana ini terjadi. Sisi baiknya kita masih sempat untuk memikirkan solusi apa yang harus diambil.
Pemerintahan yang ada sebelumnya telah begitu suksesnya menghidupkan budaya kebobrokan dalam segala aspek tersebut. Apakah semua ini berawal dari politik, mungkin saja. Setidaknya yang kita tahu saat ini dan sudah menjadi rahasia umum bahwa politik itu kotor.
Lalu sebaik apapun pemerintahan selanjutnya hanya akan terlihat sama saja. Masyarakat lebih condong untuk menyalahkan pemerintah. Dari sabang sampai merauke suara-suara kemasyarakatan nyaring terdengar terus dan tidak bosan menghantam tembok-tembok pemerintahan.
Masyakat seperti tidak mau tahu bahwa sebuah bangsa bukan hanya terdiri dari tanah dan pemerintahan saja. Masyarakat yang ada di dalam bangsa ini telah menjelma menjadi Tuhan dalam pengertian bangsa yang berdemokrasi. Setidaknya kitapun tahu dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Tuhan tidak pernah salah. Apakah betul begitu, mungkin saja begitu..?
Tapi yang saya tahu, masyarakat kita adalah masyarakat yang cerewet sementara pemerintahan kita adalah pemerintahan yang buta dan tuli, lalu tanah kita hanyalah menjadi ibu pertiwi. Setidaknya kitapun tahu dan sudah menjadi rahasia umum bagaimana tanah ini tergambar sebagai ibu yang mesti terperangkap dalam budi dan pekerti..!
Dolank
21 agustus 2010

Saturday, June 26, 2010

Nabiku

Aku yang terbaring disini telahpun bangkit berdiri. Maju dan tanpa henti, bukan karena apa dan siapa.
Aku yang lelaki begini telahpun menangis lagi. Dan bukanpun karena apa dan siapa.
Cukup dia saja.
Hanya dia dan aku rindu dia..!

Lalu mengapa kalian tak menyegerakan diri, kalian yang mengaku cinta dalam hati. Kalian yang juga dahulu berarti aku dan keakuanku. Bangkitlah berdiri, bersama kita lantangkan hati.

Muhammadku Muhammadku..
Dengarlah seruanku, aku rindu aku rindu.
Kepadamu Muhammadku.. (Hadad alwi – Rindu Muhammad)

Dolank
26 Juni 2009

Monday, September 28, 2009

Sang Insinyur

Pagi ini sepi, tidak ada lagi suara bututmu menyeloteh mesra. Beradu canda dengan Tuhan.

Dahulu kudengar kau pernah menantang Tuhan, ketika itu umurmu sudah kepala tujuh. Mungkin pikirmu segala asam dan garam telah kau kecap sementara Tuhan hanya mengaku tahu tanpa pernah ada untuk menjadi nyata.

Begitu sibuk kau jalani derapmu yang berlomba dengan waktu. Roda derita dan airmata ada yang datang dan terkadang kau tendang. Ada juga harta ada juga cinta yang kau rengkuh dalam rendaman peluh. Tak juga luput kau beri waktu luang yang mesra untuk beranak pinak di atas ranjang eropa berwarna perak.

Seringkali waktu itu ku merasa terganggu. Kicaumu selalu jauh lebih dulu dari subuh yang teduh, dan berakhir ketika damai dihatimu menenangkan segala aibmu. Pernah juga suatu kali kulihat kau menangis hingga ashar memanggilmu, katamu Tuhan lupa bercakap denganmu, hingga terlelap kau dilanda penat.

Kini kau tak lagi disini, tak lagi menangis sepanjang hari, padahal kau terlelap sangat sama ketika waktu itu, juga dengan penat. Penat selepas maghrib menjelang isya. Penat yang mempertemukanmu dengan sang malaikat.

Kali ini subuh masih tetap teduh, seteduh tubuhmu yg dilanda rapuh.

Dolank
16 April 2009

Tuesday, June 2, 2009

Cakrawala

Aku ingin sekali lagi berjalan kearah cakrawala. Menuju mimpi tempat para arwah tertawa. Sekali lagi tanpa pandangan kebelakang, hanya fokus di depan, di arah cakrawala. Menetapkan hati, tanpa gamang dan ragu hanya mengingat tentang cakrawala, tempat para arwah tertawa.

Dahulu pernah aku berjalan menujunya, sayangnya ekonomi menghempaskanku bagai pemain bola yang berlari melawan gaya pegas. Kembali lebih jauh dari tempat aku memulai perjalanan kearah cakrawala.

Siapa bilang cakrawala mudah digapai kata suara dari langit, lalu tawa membahana dari surya dan para punggawanya menenggelamkanku ke dasar bumi. Aku ingat bahwa kala itu, kala kuberjalan kearah cakrawala mentaripun menyulitkanku dengan sinarnya yang menerpa wajahku, wajahku yang kuhadapkan kearah cakrawala.

Sementara bumi tempatku berpijak, masih terus berdiam. Aku jadi gamang, kali ini siapakah yang tertawa, aku yang menertawai ketetaptidakberdayaan bumi, atau mentari yang masih menertawaiku. Sementara cakrawala masih saja terhampar jauh didepan sana, tanpa ada mentari di garisnya hanya sayup-sayup terdengar para arwah yang tertawa.

Dolank
15 April 2009


Tuesday, May 5, 2009

Jendela

Begitu anehnya kamu, berdiri sendiri dibalik aksara-aksara penuh makna. Hitamnya tinta dan putihnya kertas kau beri warna dengan tingkah pola rajutan akalmu dalam berkarya. Ada raga yang terbang, ada yang juga terlunta, ada asmara pergolakan massa juga cerita cinta tua dan muda. Begitu hidup merangkumkan jiwa kami yang terpana.

Gairahmu hujan hari ini, yang menenggelamkan kami dalam dunia kritis terkadang romantis.


Tapi sampai kini rupa-rupanya sosokmu masih ada di awang-awang kami, orang-orang desa dalam lingkup negeri tanpa tapal batas. Tanpa ilmu yang dapat menghampiri bakat alammu. Hanya melalui jendela ini kami bisa memandangmu, mengukur tinggi dan beratmu dari benda disekitarmu. Dari jendela negeri tanpa tapal batas.


Untuk kawanku
Dolank
4 Mei 2009

Wednesday, April 15, 2009

Bumi

Bumi

Kata orang bumi identik dengan biru, dan biru identik dengan damai. Sementara itu damai yang kami pijak hari ini adalah bumi yang tak lagi berwarna biru.

Ada juga yang berpikir bahwa biru itu adalah langit, dan langit identik dengan tinggi. Sementara itu langit yang kami kenal hari ini hanyalah petinggi-petinggi yang tak lagi berpijak di bumi.

Sebagian kecil bahkan sempat berpikir bahwa laut adalah gambaran bumi. Berwarna biru dan menjunjung langit yang tinggi.

Sementara kami..

Telah membiru dan terbujur kaku diatas bumi yang biru dan langit yang tinggi.

04sept08
Dolank

Saturday, April 4, 2009

Urbanisasi


Mereka menggeliat lagi, berduyun duyun membarakan langit kota. Ada kebebasan diramainya metropolis yang menghinggapi otakmu dan semakin membesarkan niatmu dalam tiap derap langkah yang bersemangat. Aku dengar peluh kalian, ada asa dalam setiap tetesnya. Walau kemerdekaan terkadang kulihat telah memberikan garis demarkasinya untukmu.
Hai orang orang urban pekikku menyadarkan mereka diatas batu tapal batas desa, tapi tak ada yang bergeming. Tidak ada lagi mimpi disana, tidak ada lagi nasib ataupun takdir yang kau pikir bisa berubah dengan hanya merubah garis tanganmu dengan sedikit kasar ataupun kapalan karena giatmu.
Peluhmu tak lagi punya nyawa hai orang- orang urban. Peluhmu tak lagi bisa berbuat banyak di tanah ini. Peluhmu tak lagi bisa bicara. Jangan merengekkan arogansimu dihadapan kota, karena kota lebih berpengalaman untuk meneriakkan arogansinya untukmu.
Dolank
24 maret 2009

Sunday, March 22, 2009

Menggigil

Derapku masih melaju, walau terkadang gontai dan sesekali terjatuh. Tapi tubuh tempatku melelahkan diri masih mengaum, masih ingin terluka, luka terbuka. Sebab darahku masih biru, aku ingin oksigen bercampur dengannya, bukan cuma racun dari tembakau bakar yang berencana menturbulensi alirannya.
Warna tubuhku masih hitam, membiaskan segala senyuman, merendahkan warna kesucian. Masih gahar menentang tatapan para pekerja kasar dan kuli bangunan. Bersama remang kutikamkan amarahku.
Marahku semakin melintasi malam. Rangkul aku kawan, tapi jangan dengan cinta!

Dolank
22 Februari 09

Tuesday, February 17, 2009

Merusak Diri

Menjadi orang dari 4-5 tahun yang lalu, benar diluar dugaan saya sewaktu 4-5 tahun lalu ketika ini. Masih berkutat dengan dunia yang orang bijak juga banyak melaluinya. Masih tenggelam dalam dunia yang dipenuhi keroco-keroco sombong yang tanpa batas, yang menyalak ketika ramai kalau tidak sedang berada dalam kandang kecil yg cukup memuaskannya.
Orang-orang dari 4-5 tahun yg lalu pun masih sama dengan orang-orang yg mengelilingi dengan setianya hingga kini. Masih punya taring, masih punya wibawa, dan akal yang jauh lebih tajam daripada ketika dahulu, 4-5 tahun yang lalu. Lalu mengapa kami tak menguasai dunia lagi.
Saya benar-benar terbawa arus perasaan, yang semestinya dihentikan sejak lama. Dibuainya hingga mabuk yang memuntahkan, benar-benar dimabukkan hanya oleh beberapa botol bir, ataupun secuil tembakau bakar. Terkadang hingga membakar kepalan tangan ketika melihat jumawa para remaja tanggung yg ingin membuktikan diri, sama seperti saya 4-5 tahun yg lalu.
Dolank
17 feb 2009

Monday, January 5, 2009

Universitas Serba Ada

Begitu aneh rasanya memang, kami yang tersebut sebagai mahasiswa yang dalam hal ini berperan sebagai kaum mayoritas dalam sebuah institusi harus mengalah dengan pendapat kaum minoritas didalam institusi yang sama. Tidak dipungkiri bila terkadang minoritas tidak selalu salah dan mayoritaspun tak selalu benar, tapi yang pasti mimpi bukan untuk anak para konglomerat saja.
Rektor yang semakin membiaskan dirinya dengan berprilaku seperti pedagang toko kelontong yang hanya memikirkan untung dan untung saja. Para lulusan sarjana ekonomi di DPR yang semakin lupa dengan dinamika perkuliahan, atau mungkin mereka tak pernah mengenyam bangku kuliah hingga mudah saja untuk berkata ya.. ya.. saja atau berdiam diri pura pura tertidur ketika kepentingan umum diwacanakan.
Konon katanya, di tanah ini semua bisa dibeli, mulai dari tetek bengek dapur hingga sebuah tingkat kesarjanaan. Berdasar dari itupulalah mengapa pemimpin dari sebuah perguruan tinggi terkadang berprilaku seperti pedagang toko kelontong yang menjual segala jenis kebutuhan. Dan kami mahasiswa seperti juga masyarakat, hanya ada pilihan membeli atau mencari toko kelontong lain dengan harga yang sedikit berbeda, tentunya dengan waktu dan tenaga yang lebih ekstra namun berakhir dengan biaya yang hampir sama saja.
Hei pelajar, jangan hanya berdiam diri saja, menetek manja dengan guru-gurumu sementara kami disini memperjuangkanmu, memperjuangkan mimpi-mimpimu untuk 2009 nanti. Karena hal ini tak berpengaruh sama sekali untuk kami. Tapi untukmu, selamat bermimpi.
17 des 2008
Dolank