Rasanya aku baru saja datang kemari.
Pada masa-masa yang telah terlewati.
Dengan asa yang menderu.
Melintasi waktu menggunakan teknologi yang paling baru.
Lorong itu terlalu sendu, seperti ribuan pisau yang akan menyayat dengan pilu.
Itu kata orang-orang di masaku. Menambah rasa takut pada jiwa yang ragu.
Tapi aku tak perdulikan itu, karena aku punya rindu.
Rindu mengebu-gebu.
Aku ingin beradu lebih dahulu, lebih lamban, lebih penat.
Semua itu serupa obat, pada rasa sepiku di masa nanti.
Masa dimana kanker tidak lagi menakutkan, kemisknan bahkan sudah terlupakan.
Orang-orang hidup dalam keberadaan, kemerdekaan, kesendirian.
Tak ada sentuhan, hanya ada angan.
Angan-angan...
Sesuatu yang hanya ternilai ilusi dimasa kini.
Rupa-rupanya hanya itu yang kumiliki sedari dini, tak tahu pun sejak kapan hal itu terdistorsi.
Orang-orang panik, mencoba untuk menjajah mimpi.
Mereka tak tau bahwa aku hidup lebih dahulu di alam mimpi, alamnya para penyendiri.
Mereka terbuai pada keberadaan, pada kemiskinan yang fana, pada kanker yang tiada, pada dunia yang mengada-ada.
dan dalam kepanikan itu aku lari, dengan sembunyi-sembunyi.
Aku takut, tentu..?
Bagaimana jika mereka tau, apakah rinduku akan terenggut.
Aku ingin tau, tentu..!
Apakah waktu akan menjadi lebih lamban, lebih menyisakan penat hanya untuk melelapkan mimpi.
Mimpi para penyendiri.
(Untuk Aira)
Dolank
25 Juni 2024
No comments:
Post a Comment