Friday, June 6, 2025

Cina

 

Aku hanyalah petani di siang hari. Menanam benih benih yang terjangkau, agar dapat menjangkau mimpi dikemudian hari. Tanah tempatku berdiam ini memang kecil, tapi ia bagian dari bukit yang memanjang dan cukup tinggi. Tempat dimana angkasa menjadi lebih dekat denganku dan tidak terhalang apapun lagi. Tempat terbaik bagiku memandang rembulan di malam hari.

Rembulan, temanku bermain dikala sepi. Dahulu kami cukup dekat, kadang aku mencolek rupanya yang putih menawan. Sering juga aku menghiburnya ketika bermuram. Namun masa demi masa tanpa terasa terus menerbangkannya, tinggi dan semakin meninggi. Cahayanya kini bukan menjadi milikku sendiri lagi, orang orang di belahan bumi lainnya juga mulai menyadari.

Angkasa tempat yang dingin, tekanan menjadi begitu tinggi. Aku tak tau apa rembulan juga merasakan hal yang sama. Aku semakin ingin melindungi, tapi.. Rasa dingin itu menular, menular pada tiap benda yang mengangkasa, membekukan tiap benih benih rasa, masa, asa yang pernah tercipta.   

Malam datang lagi, aku bersiap memandang rembulan. Rutinitas yang kulakukan selama berbulan bulan, lalu berganti tahun. Setelahnya, sepi dan keheningan sudah menjadi hal yang lumrah bagiku. Aku mendongakkan kepala, memandang  rembulan yang memendarkan cahaya putih menawan, membawaku pada kenangan masa masa silam yang semakin temaram.

Sebentar lagi akan pagi…

 

Dolank

2 Juni 2025

Monday, July 8, 2024

2023 sisi A


Rasanya aku baru saja datang kemari.

Pada masa-masa yang telah terlewati.

Dengan asa yang menderu.

Melintasi waktu menggunakan teknologi yang paling baru.


Lorong itu terlalu sendu, seperti ribuan pisau yang akan menyayat dengan pilu.

Itu kata orang-orang di masaku. Menambah rasa takut pada jiwa yang ragu.

Tapi aku tak perdulikan itu, karena aku punya rindu.

Rindu mengebu-gebu.


Aku ingin beradu lebih dahulu, lebih lamban, lebih penat.

Semua itu serupa obat, pada rasa sepiku di masa nanti.

Masa dimana kanker tidak lagi menakutkan, kemisknan bahkan sudah terlupakan.

Orang-orang hidup dalam keberadaan, kemerdekaan, kesendirian.

Tak ada sentuhan, hanya ada angan.


Angan-angan...


Sesuatu yang hanya ternilai ilusi dimasa kini.

Rupa-rupanya hanya itu yang kumiliki sedari dini, tak tahu pun sejak kapan hal itu terdistorsi.

Orang-orang panik, mencoba untuk menjajah mimpi.

Mereka tak tau bahwa aku hidup lebih dahulu di alam mimpi, alamnya para penyendiri.

Mereka terbuai pada keberadaan, pada kemiskinan yang fana, pada kanker yang tiada, pada dunia yang mengada-ada.

dan dalam kepanikan itu aku lari, dengan sembunyi-sembunyi.


Aku takut, tentu..?

Bagaimana jika mereka tau, apakah rinduku akan terenggut.

Aku ingin tau, tentu..!

Apakah waktu akan menjadi lebih lamban, lebih menyisakan penat hanya untuk melelapkan mimpi.

Mimpi para penyendiri.


(Untuk Aira)

Dolank

25 Juni 2024


Wednesday, August 24, 2022

Menyisa Sisa Sisa

 

Malam hampir pagi, teringat pikiranku pada sebait lirik ciptaan mas Virgiawan Listianto. Pada penghujung waktu itu, dimana rembulan masih membulat ranum, berwarna putih dengan pendar yang membatasi antaranya dan langit hitam. Tentu tak luput juga ada bintang bintang pada pesona itu. Nikmat aku memandanginya, dan timbul rasa ingin memilikinya sendiri, sebagaimana senja yang telah tercabik paksa oleh mas seno, karena keegoisannya. Keegoisan yang dikabarkan pada sebaris kata satir berwujud romantis untuk kekasihnya.

Alina..

Begitu beruntung dirimu Alina, wanita yang tak perlu menerima cemohan dunia. Ketika semua cemoh itu terlampiaskan pada seonggok tubuh seno gumira karena menuruti keliaran alam pikirnya. Lelaki konyol yang merampok senja beserta sederet langit kemerahan disekitarnya.  Ah, pernahkah ia terpikir bahwa senja itu, merupakan senja yang sama dikota ini. Senja yang tak lagi memiliki garis cakrawala akibat dari sisa sisa keangkuhan ruda paksanya..!

Senja..

Tak indah tentu, hanya tersisa sendu. Tapi walau tak seindah yang kau lihat ketika wajahmu terpaut dalam kisahku, disaat debur ombak yang menderu dayu, dan pasir putih yang menghambur pada jemari kaki sayu. Itupun tlah cukup rasanya, tuk kita nikmati disini walau tak panjang lagi waktu.

Hanya menyisa isu.

Ah , rindu aku..!

Masa ini tak lagi ada kisah kisah itu. Gedung gedung berjajar tinggi. Mencakar langit, langit yang tak lagi biru. Hanya menyisa jingga, setelah merah menyala yang membakar. Panas meluap, mencecar kata kata kasar lalu menyesal.

Hanya menyisa candu.

Agama, ah apa itu..?

Hanya asa untuk menjadi setara, tak berarti apa apa diruang nyata. Mengintip detik untuk bermetamorfosa. Kuduga kau masih sempurna, karena menduga tak perlu menengadah. Satu kepatutan pada lingkup lapisan bawah. Lapisan yang terhimpit oleh jajaran gedung gedung itu. Gedung gedung yang ada kau mengisi salah satu ruangnya.

Hanya menyisa malu.

 

Dolank

24 Agustus 2022

Wednesday, June 30, 2021

Kangen

Ingin sekali saya menulis kembali, selayak diakhir masa remaja yang diretas kembali. Menuliskan tentang beragam hal dan rupa. Pemikiran, romantisme picisan, makanan, alam, ataupun sekedar saduran dari cerita cerita sastra yg menemani malam malam sepi di negeri rantau ketika itu. Dan tentu dalam rupa puisi ataupun prosa.

Namun ternyata menulis itu tidak sekedar bakat, bukan juga emosi yg memuncak dari rasa simpati atau terhenti di empati. Ada yang hilang dan sayangnya bagian itulah yang paling saya sukai. Kata kata unik, yang terjalin dalam irama tatkala lidah memagut di langit langit. Kata kata  sadur nan memikat dari Boris Pasternak hingga gemulai lunglai di Sutan Takdir Alisjahbana, ruang saya jatuh cinta pada karya.

Dan dengan terlampaunya waktu satu demi satu, sedikit menguakkan mengapa berjalan begitu rupa. Seorang filosof pada kanal beritanya berkata dgn jenakanya, bahwa menulis itu adalah padanan kata dari ribuan ruang yang kita baca. Sementara diriku hari ini, hanyalah tubuh dengan beragam indra yang terlena pada gambar gerak bersuara.

Dolank

1 Juli 2021

Wednesday, March 11, 2020

Nerima


Sering kuberpikir ini hanyalah dansa biasa. Melingkarkan lenganku pada lekuk indah tubuhnya, agar separuh wajah itu terjatuh pada bidang datar ternyaman dadaku. Namun terlupa aku bahwa dansa tidak sekedar tubuh bagian atas belaka, juga dibutuhkan langkah langkah kaki yang seirama. Langkah langkah kecil sederhana, monoton dan manja.

Pada beberapa kali juga kupikir ini hanyalah rupa meditasi. Layaknya gerakan yoga yang tercantum pada prasasti-prasasti. Sebagaimana itulah kusangkakan tingkahmu yang berhibernasi, sementara itu tak kusadari diriku juga terlampau berimajinasi. Menghampakan ruang dan waktu pada lintasan yang tak ada tepi.

Biasa dan tak extraordinari kata raden ajeng roro putri. Bisa jadi karena jauhnya dimensi, antaranya hingga kami para abdi. 

Lalu...

Sukmaku berucap lirih, terima kasih. 

Dolank
20 Februari 2020

Tuesday, July 16, 2019

Berdiri Sendiri


Saya suka mendengar lagu lagu ini, lagu lagu berirama polka. Irama yang berdentum dentum manja dan menghadirkan kesegaran pada akhir dentumannya yang selalu mengambang. Nikmat didengarkan terutama untuk hari yang melelahkan.

Polka sebuah kata yang saya imajinasikan sendiri untuk menggambarkan lagu jenis ini. Bukan karena saya banyak mengerti tentang musik apalagi tentang kata, hanya saja karena saya suka. Suka untuk berimajinasi sendiri.

Saya suka melihat lukisan lukisan ini, lukisan lukisan beraliran kubistik. Penuh dengan warna namun begitu mudah untuk dapat terdeskripsi. Hanya ada nuansa cerah ataupun kelam sebagai sebuah bentuk perlambangan emosi.

Kubistik bukan juga sebuah kata yang lazim terdengar, hanya saja saya merasa cocok untuk menggambarkan lukisan ini yang berbentuk kotak kotak. Bisa dibilang abstrak, hanya saja kurang berekstrak. Gambaran yang saya beri tentu bukanlah sesuatu yang telah terdefinisi, hanya karena saya suka berimajinasi.

Saya juga suka membaca tulisan tulisan ini, bernada dan sedikit dekstruktif. Terkadang juga provokatif, namun tak pernah ada yang merasa tersentil walaupun tujuannya lebih daripada sekedar menyentil. Realistik tentunya bukanlah sesuatu yang mesti diungkap, karena itu tak mungkin menjadi bagian dari tulisan ini. Tulisan tulisan saya sendiri yang tak pernah mengerti apa apa dan bukan siapa siapa.

Imajiner hanya itu ruang yang anda butuhkan untuk mengerti saya yang telah terimajinasi. Dan ketika itu terjadi, saya rasa kita telah berada dalam satu mimpi.

Dolank

Friday, July 12, 2019

Benih



Manisku
Berikan aku ayam jantan
Yang berkokok dengan lantang

Merdu
Tak jera untuk ditantang
Sebagai pertanda orang selatan

Rahimmu
Itulah dia tanjung harapan
Menjaganya dalam keislaman

Pintaku masih belum juga usai, untuk engkau yang akan kutuai
Sementara kita belum juga memulai, namun subuh telah melambai

Manisku
Cukuplah kau tak lupakan itu


Dolank
6 mei 2012