Aku hanyalah petani di siang hari. Menanam benih benih yang terjangkau, agar dapat menjangkau mimpi dikemudian hari. Tanah tempatku berdiam ini memang kecil, tapi ia bagian dari bukit yang memanjang dan cukup tinggi. Tempat dimana angkasa menjadi lebih dekat denganku dan tidak terhalang apapun lagi. Tempat terbaik bagiku memandang rembulan di malam hari.
Rembulan, temanku bermain dikala sepi. Dahulu kami cukup dekat, kadang aku mencolek rupanya yang putih menawan. Sering juga aku menghiburnya ketika bermuram. Namun masa demi masa tanpa terasa terus menerbangkannya, tinggi dan semakin meninggi. Cahayanya kini bukan menjadi milikku sendiri lagi, orang orang di belahan bumi lainnya juga mulai menyadari.
Angkasa tempat yang dingin, tekanan menjadi begitu tinggi. Aku tak tau apa rembulan juga merasakan hal yang sama. Aku semakin ingin melindungi, tapi.. Rasa dingin itu menular, menular pada tiap benda yang mengangkasa, membekukan tiap benih benih rasa, masa, asa yang pernah tercipta.
Malam datang lagi, aku bersiap memandang rembulan. Rutinitas yang kulakukan selama berbulan bulan, lalu berganti tahun. Setelahnya, sepi dan keheningan sudah menjadi hal yang lumrah bagiku. Aku mendongakkan kepala, memandang rembulan yang memendarkan cahaya putih menawan, membawaku pada kenangan masa masa silam yang semakin temaram.
Sebentar lagi akan pagi…
Dolank
2 Juni 2025