Ingin aku bercerita lagi, tentang ujian-ujian yang semakin aku tak mengerti ini ataupun tentang semangat yang semakin berapi-api. Tentang malam-malam yang semakin sepi juga seringnya perempuan menggoda hati.
Tetapi ketika aku memandang sejenak, jauh keluar jendela kamar, yang terhampar hanyalah ruang dan waktu. Kamu semakin berlalu dan mungkin juga menjauh. Hanya ada rindu yang bergemuruh. Rindu aku denganmu.
Begitu aneh rasanya memang, kami yang tersebut sebagai mahasiswa yang dalam hal ini berperan sebagai kaum mayoritas dalam sebuah institusi harus mengalah dengan pendapat kaum minoritas didalam institusi yang sama. Tidak dipungkiri bila terkadang minoritas tidak selalu salah dan mayoritaspun tak selalu benar, tapi yang pasti mimpi bukan untuk anak para konglomerat saja.
Rektor yang semakin membiaskan dirinya dengan berprilaku seperti pedagang toko kelontong yang hanya memikirkan untung dan untung saja. Para lulusan sarjana ekonomi di DPR yang semakin lupa dengan dinamika perkuliahan, atau mungkin mereka tak pernah mengenyam bangku kuliah hingga mudah saja untuk berkata ya.. ya.. saja atau berdiam diri pura pura tertidur ketika kepentingan umum diwacanakan.
Konon katanya, di tanah ini semua bisa dibeli, mulai dari tetek bengek dapur hingga sebuah tingkat kesarjanaan. Berdasar dari itupulalah mengapa pemimpin dari sebuah perguruan tinggi terkadang berprilaku seperti pedagang toko kelontong yang menjual segala jenis kebutuhan. Dan kami mahasiswa seperti juga masyarakat, hanya ada pilihan membeli atau mencari toko kelontong lain dengan harga yang sedikit berbeda, tentunya dengan waktu dan tenaga yang lebih ekstra namun berakhir dengan biaya yang hampir sama saja.
Hei pelajar, jangan hanya berdiam diri saja, menetek manja dengan guru-gurumu sementara kami disini memperjuangkanmu, memperjuangkan mimpi-mimpimu untuk 2009 nanti. Karena hal ini tak berpengaruh sama sekali untuk kami. Tapi untukmu, selamat bermimpi.
Wajah tanahku di bulan Juni begitu memalukan dan diskriminasi. Pancasila yang coreng moreng menampakkan kecompang-campingannya untuk yang kesekian kalinya. Ketika demokrasi dimerdekakan akan tetapi harus pula mempertanyakan haknya. Ketegasan yang semestinya mutlak, hanya dapat menyediakan kerancuan. Sementara itu di masyarakat sebuah kesalahpahaman sosial merebak hingga melunturkan atau mungkin lebih tepatnya merendahkan semangat keislaman sekelompok orang. Sesama muslim yang semestinya bersaudara begitu mudahnya merendahkan saudaranya. Ketika budaya islam diperjuangkan oleh kaum minoritas tapi dianggap sebagai pelecehan. Beginikah wajah muslim Indonesia..? Ketika sebuah kata, yang namanya laskar menjadi sebuah kata yang menjual, bermunculanlah berbagai macam laskar, hal yang sudah biasa di negeri ini. Tapi menjadi memalukan ketika keberanian untuk mati hanya menjadi sebuah ikon yang merebak bagaikan jamur dimusim hujan dari para pemimpin pondok ketika mereka hanya bertujuan untuk menuntut adanya pembubaran dari sekelompok orang yang mencoba berjalan dinegeri yang kecil ini. Namun ketika dihadapkan dengan tanah palestina, golok-golok mereka menjadi pisau dapur, otot-otot hamburger menjadi otot tempe, dan hati yang bagaikan naga menjadi cacing yang meringkuk. Kita yang semestinya sama-sama berjuang membela yang telah pasti hak-nya, malah tercebur dengan konflik baru demi mendapatkan popularitas sesaat. Atau mungkin konflik lama yang hanya menunggu waktu untuk siap melumat kaum urban negeri ini, yang berani berbicara ketika mulut dikunci. Sementara hati saudaranya yang dikenal mayoritas dikeruhkan biar segala menjadi rancu. Inilah yang terjadi di negeri kami, negeri dimana surga bagi para ustad yang tak mampu menjaga mulutnya, ketika telinga telah disamarkan, sementara mata dibutakan. Dan menjadi muslim hanyalah ikon yang menjanjikan untuk memulai usaha, bukan sebagai sebuah prinsip yang harus dibela ketauhidannya dan diangkat martabatnya.
Seorang karib telah bertanya, “apa itu perawan punten?” Lalu dengan ringannya kujawab, “mungkin saja ia seorang perawan berbentuk punten”. Sang teman lalu bertanya lagi, “Lalu jika ia perawan, apakah ia seorang wanita pada umumnya?” Kujawab juga begini, “Bukan, melainkan ia ialah bidadari”. Sang teman lalu bertanya lagi, “berarti perawan punten berada di surga!?” “Tentu saja tidak, karena surga hanya untuk orang tua dan penguasa, sementara saya bukan siapa-siapa yang mampu mengenal surga”, jawabku agak panjang.Sang karib itupun bertanya lagi untuk kesekian kalinya dengan mimik yang mulai kebingungan, “Sebenarnya perawan punten itu apa, manusia atau bidadari?” Akupun lalu menjelaskan, “Begini saja, jika kamu melihat matahari telah berada di ufuk timur, maka itulah perawan punten, jika kamu melihat pelangi di langit barat maka itulah perawan punten, jika kamu melihat melati digurun gersang maka itulah perawan punten, dan jika kamu melihat bidadari di kedua matamu maka itulah perawan puntenmu, sementara itu jika kamu melihat perawan puntenku maka titipkanlah salamku untuknya kawan”.
Seperti yang pernah tertulis dahulu apa itu cinta, hanya sebuah kata dalam kamus hitamku. Menuliskannya hanya akan menghitamkan jalanku seperti pekatnya kamus itu. Menggoreskannya hanya akan membuaikan lelap tidurku hingga terlupa dengan realita.
Aku hanya ingin menuliskan kamu. Bukan yang lainnya. Karena tak ada yang lebih bercahaya ketika pena menari diatas kertas selain kawan dan tentu saja juga kamu.
Tapi ketika ini, ketika penaku menggoreskan kamu, hanya ada kata, jauh.
Tuan… Aku telah lihat kemiskinan kota ini, sementara beberapa tahun lalu kulihat juga kemiskinan dikota yang sana. Beberapa bulan setelahnyapun telah kulihat juga kemiskinan kota yang lainnya. Dan kau tahu apa yang kupikirkan… Sudahlah tuan, jangan kau palingkan mukamu seperti kau punya kesibukan yang lebih penting daripada selain tidur dan bersenggama. Kau pasti tau apa yang kupikir, sesuatu yang pasti kau pikirkan juga. Hanya saja… Ya, hanya saja kau terlalu takut untuk menyuarakannya tuan. Atau mungkin karena kau bingung akan menyuarakan pada siapa lagi, bukankah kau adalah yang tertinggi. Jadi lebih baik diam dan tersenyum, karena diam adalah wibawamu, dan senyum adalah karismamu. Kalau begini, maka… Baiklah tuan akan kusuarakan suara hatimu dan hatiku serta beberapa hati yang lainnya, agar kita sama-sama tau. Kamu, aku dan yang lainnyapun tau. Kalau kemiskinan itu, kaalau keemiskiinan ituu, kaalaauu keemiissskiinnaan iitu, ternyata adalah lumrah. Karena hati kita. Aku, kamu, dan beberapa hati yang lainnya pun telah jadi miskin pula!!!
(Maaf karena masih belum bisa berbuat lebih untuk kalian saudaraku). 20 November 2008 Dolank
Kita sama-sama berpeluh hari ini, tidak hanya peluh rupanya kawan, tapi peluhku bercampur darah. Darahmu!
Badan kita bukan otot yang terdiri dari besi dan baja kawan, jangan kau lalai dengan tubuhmu, karena aku tak mungkin melindungimu dari depan. Keberanian bukan milikku, dan kelihaian juga bukan kodratmu.
Kulihat kau hampir lelah kawan, tapi jangan pernah ragu karena aku pasti menopangmu untuk berdiri dan menantang lagi. Masih banyak musuh yang menghadang, jadi jangan lupa cadangkan tenaga untuk lari atau mungkin juga mati.
Peluhmu begitu deras kali ini kawan, lebih dari hari kemaren, apakah esok hari kau masih mampu berpeluh didepanku…