Wednesday, October 15, 2008

Pasrah

Kepasrahan diri, begitulah ia memojokkan alam pikirnya dalam deru mesin usang yang memekikkan perlawanan dengan gelombang timur dan gelap malam yang sesekali memabukkan jalur pencernaan beberapa orang disekitarnya. Kepasrahan diri akan segala dosa yang pernah ada dan amal yang belum sempat terwujudkan.

Sementara para wanita melantunkan shahadat, takbir dan lantunan lantunan suci lainnya yang terdengar seram serta tangis bayi yang serba tak mengerti gejala alam, ia hanya bisa memasrahkan diri terduduk diam berpikir apa yang akan terjadi dan bagaimana bila benar-benar terjadi, benar-benar memasrahkan diri pada segala yang akan dijadikan-Nya.

Kepasrahan diri yang begini rupa adalah kepasrahan diri yang sebenar-benarnya pasrah, jauh lebih pasrah daripada setiap kepasrahan diri dalam setiap sujud yang pernah dilakukannya mungkin. Begitulah kami, menamakan diri manusia, yang hanya berarti sejumput nyawa yang tak berarti, bertindak pasrah dalam keadaan yang mendesak untuk berhenti.

Laut Banda, 9 oktober 2008
Dolank

Monday, September 1, 2008

Lupa

Kawan…

Rasa-rasanya sudah sangat lama aku berjalan. Jauh dan semakin menjauh dari duka dan suka geliat masa muda. Ada kemunafikan yang selalu saja menggoda.

Tampar aku kawan…

Tampar aku lebih keras dengan tinju yang pernah kau berikan untuk musuh kita kala itu. Kala kelaparan merajai tidur kita. Tampar aku lebih hebat ketika aku terlalu lama menetek di tetek tetek yang sedang ranum terjual dalam pasar tempat kita bergulat ketika lelah menghampiri penat. Tampar aku dengan tangan yang kutau tak lagi suci dimata para orang-orang suci.

Ya… Memang ada cinta dalam setiap tatapan orang muda, tapi cintaku bukan hanya cinta laki bini. Bukan hanya cinta berahi saja. Cintaku juga ada dalam pasar dan perempatan jalan kita.


1 september 2008
Dolank

Monday, August 4, 2008

The Island

Matahari di bumi ini berwarna jingga, terkadang merah, namun kebanyakan orang melukiskannya berwarna kuning. Begitu jugakah kau melihatnya dari sisi itu, dari sisi pulau yang akan kau sentuh pasirnya, dan kau cumbu gelombangnya.
Aku berdiri disini mencermati warna yang kau torehkan dengan penuh bimbang, mengamati air dan riak-riaknya serta burung cemara kecil yang mungkin telah singgah dipulau itu. Memberi arti dan berhenti untuk menyendiri.
Hari-hari seperti ini seperti akan terus terhampar begitu saja. Sepi menyelimuti…


Pernah kubertanya

Adakah sejuta makna dalam diam

Sebanyak diam itu dalam maknanya

Ada suara yang berbicara ribuan kata takkan berarti apa apa ketika diammu memendamkan sejuta makna. Ketika keinginan untuk menyatakan menyeruak begitu tinggi, maka menjadi biaslah segala makna yang selama ini terus terpendam, itu menurut mataku yang hidup dibelahan bumi ini, begitu jugakah engkau melihatnya malaysiaku, atau mungkin juga disana segalanya dapat terlihat lebih jelas dari kekakuan perangai yang terus saja terpendam. Ya begitulah semuanya, begitu banyak yang berbeda.

Kenapa masih meributkan hal yang tak penting-penting saja. Aku ingin berhenti dan bercerita saja tentang pantai atau matahari yang belum pernah aku liat dipenghujung sana. Mencari jejakmu diatas pasir putih, dan mungkin membenamkan tubuhku didalam gelombangnya bersama ikan-ikan kecil yang berdatangan mengelilingi tubuh kita. Ataupun kalau bisa berjalan lebih jauh lagi, menikmati udara di place des vosgues sembari melintasi sungai seine yang terkenal itu pasti akan sangat menyenangkan. Dan mungkin juga dapat berucap mesra di keningmu...

2 Agustus 2008


Dolank


Thursday, July 31, 2008

Kawanku Dihimpit Kawan

Apa kabar mahasiswa hari ini, beberapa teman menuntut keadilan rupanya. Namun sayang hanya beberapa, segelintir barangkali, lebih tepatnya sedikit sekali. Mereka berteriak lantang didepan gedung, dihadapan penguasa, dengan lapar yang merajalela. Begitu saja seperti selalu yang telah ada hanya membentur baja. Dan pihak rektoratpun tertawa… yahaha…
Lalu dimana yang lainnya, yang lainnya ada di meja ujian, seperti sapi dicambuk dan mengikut. Melalui dogma antara orang tua, ekonomi, dan masyarakat, mereka digiring kesana sini. Dan pihak rektorat pun tertawa… yahaha…
Ada perasaan nanar melihat kawan berjalan menyebar issue. Tapi kebanyakan orang hanya mencemoh lalu menganggap tak pernah ada. Sementara media telah dibeli para penguasa, yang masih ngeyel jika tak laku, tentu saja dibredel. Ya begitulah rakyat kami di negeri ini, kalau saja isu ini berupa perceraian tentu akan lebih meledak.

27 Juli 2008

Dolank


Saturday, July 26, 2008

Menulis Irama

Pagi hari dimana orang-orang masih asik dengan mimpi, kulangkahkan kaki menuju dermaga pribadi. Ada ketidakpastian muncul dalam embun yang melingkupi ini. Melangkahkan kaki seperti menjadi beribu-ribu kati saja adanya.
Ada kalanya segala rintang hanyalah datang dari embun-embun. Namun pagi ini, pagi yang sepi ini kurasakan sebuah belati mengarahkan matanya sebentar lagi. Bukan dari sisi yang tak aku mengerti, tapi hari ini, lebih tepatnya pagi ini, kurasakan sesaat untuk berdiri dihadapmu menantang lagi!

25 July 2008

Dolank



Thursday, July 17, 2008

Berteriak

Berdiam diri ketika beribu kawan melangkah bukan berarti bijak, tapi orang muda memang harus selalu melangkah, tidak peduli menjadi salah, karena benar dan salah hanyalah ada dalam rentang waktu. Hanya wanita tua atau lelaki manja yang selalu menjadi pemerhati masalah, karena idealisme telah punah dimasa tua dan tak datang dikala bocah.
Mahasiswa adalah gerbang terakhir yang membatasi antara seorang anak bawang dengan sebuah dunia yang namanya masyarakat dengan segala kemajemukannya tentunya, masihkah kita menjadi melankolis ketika dihadapkan dengan seorang mandor harian? Atau mungkin melawan ketika ironi ada dimana-mana?
Sekaranglah saatnya merubah sebuah eksklusivisme terkungkung pelajar dengan sebuah pergerakan bebas namun terarah. Dunia kampus adalah dunia yang sangat bebas, lalu kenapa kita masih saja terkungkung dengan euphoria kelulusan sekolah.
Ya… Berteriak… berteriaklah semakin kencang, selalu dan jangan mendayu. Kita adalah sapu, merangsek selalu dengan debu, jadi jangan lagi ada kata ragu. Kita adalah maha, dimana pundak harapan menjadi tangan. Meracau bukan berarti kacau, tapi negeri tak lagi harus diratap sepi.
18 Juli 2008
Dolank

Saturday, July 12, 2008

Malaysia

Mungkin aku telah salah membaca warna hari ini.
Aku pikir merah itu pasti dan biru itu bumi.
Ternyata hanya ada jingga saja!
Dengan kepergian menyelimuti hati di kelam kabut mesra.

12 juli 2008

DolaNk