Matahari di bumi ini berwarna jingga, terkadang merah, namun kebanyakan orang melukiskannya berwarna kuning. Begitu jugakah kau melihatnya dari sisi itu, dari sisi pulau yang akan kau sentuh pasirnya, dan kau cumbu gelombangnya.
Aku berdiri disini mencermati warna yang kau torehkan dengan penuh bimbang, mengamati air dan riak-riaknya serta burung cemara kecil yang mungkin telah singgah dipulau itu. Memberi arti dan berhenti untuk menyendiri.
Hari-hari seperti ini seperti akan terus terhampar begitu saja. Sepi menyelimuti…
Pernah kubertanya
Adakah sejuta makna dalam diam
Sebanyak diam itu dalam maknanya
Ada suara yang berbicara ribuan kata takkan berarti apa apa ketika diammu memendamkan sejuta makna. Ketika keinginan untuk menyatakan menyeruak begitu tinggi, maka menjadi biaslah segala makna yang selama ini terus terpendam, itu menurut mataku yang hidup dibelahan bumi ini, begitu jugakah engkau melihatnya malaysiaku, atau mungkin juga disana segalanya dapat terlihat lebih jelas dari kekakuan perangai yang terus saja terpendam. Ya begitulah semuanya, begitu banyak yang berbeda.
Kenapa masih meributkan hal yang tak penting-penting saja. Aku ingin berhenti dan bercerita saja tentang pantai atau matahari yang belum pernah aku liat dipenghujung sana. Mencari jejakmu diatas pasir putih, dan mungkin membenamkan tubuhku didalam gelombangnya bersama ikan-ikan kecil yang berdatangan mengelilingi tubuh kita. Ataupun kalau bisa berjalan lebih jauh lagi, menikmati udara di place des vosgues sembari melintasi sungai seine yang terkenal itu pasti akan sangat menyenangkan. Dan mungkin juga dapat berucap mesra di keningmu...
2 Agustus 2008
Dolank
Monday, August 4, 2008
Thursday, July 31, 2008
Kawanku Dihimpit Kawan
Apa kabar mahasiswa hari ini, beberapa teman menuntut keadilan rupanya. Namun sayang hanya beberapa, segelintir barangkali, lebih tepatnya sedikit sekali. Mereka berteriak lantang didepan gedung, dihadapan penguasa, dengan lapar yang merajalela. Begitu saja seperti selalu yang telah ada hanya membentur baja. Dan pihak rektoratpun tertawa… yahaha…
Lalu dimana yang lainnya, yang lainnya ada di meja ujian, seperti sapi dicambuk dan mengikut. Melalui dogma antara orang tua, ekonomi, dan masyarakat, mereka digiring kesana sini. Dan pihak rektorat pun tertawa… yahaha…
Ada perasaan nanar melihat kawan berjalan menyebar issue. Tapi kebanyakan orang hanya mencemoh lalu menganggap tak pernah ada. Sementara media telah dibeli para penguasa, yang masih ngeyel jika tak laku, tentu saja dibredel. Ya begitulah rakyat kami di negeri ini, kalau saja isu ini berupa perceraian tentu akan lebih meledak.
27 Juli 2008
Dolank
Saturday, July 26, 2008
Menulis Irama
Pagi hari dimana orang-orang masih asik dengan mimpi, kulangkahkan kaki menuju dermaga pribadi. Ada ketidakpastian muncul dalam embun yang melingkupi ini. Melangkahkan kaki seperti menjadi beribu-ribu kati saja adanya.
Ada kalanya segala rintang hanyalah datang dari embun-embun. Namun pagi ini, pagi yang sepi ini kurasakan sebuah belati mengarahkan matanya sebentar lagi. Bukan dari sisi yang tak aku mengerti, tapi hari ini, lebih tepatnya pagi ini, kurasakan sesaat untuk berdiri dihadapmu menantang lagi!
25 July 2008
Dolank
Thursday, July 17, 2008
Berteriak
Berdiam diri ketika beribu kawan melangkah bukan berarti bijak, tapi orang muda memang harus selalu melangkah, tidak peduli menjadi salah, karena benar dan salah hanyalah ada dalam rentang waktu. Hanya wanita tua atau lelaki manja yang selalu menjadi pemerhati masalah, karena idealisme telah punah dimasa tua dan tak datang dikala bocah.
Mahasiswa adalah gerbang terakhir yang membatasi antara seorang anak bawang dengan sebuah dunia yang namanya masyarakat dengan segala kemajemukannya tentunya, masihkah kita menjadi melankolis ketika dihadapkan dengan seorang mandor harian? Atau mungkin melawan ketika ironi ada dimana-mana?
Mahasiswa adalah gerbang terakhir yang membatasi antara seorang anak bawang dengan sebuah dunia yang namanya masyarakat dengan segala kemajemukannya tentunya, masihkah kita menjadi melankolis ketika dihadapkan dengan seorang mandor harian? Atau mungkin melawan ketika ironi ada dimana-mana?
Sekaranglah saatnya merubah sebuah eksklusivisme terkungkung pelajar dengan sebuah pergerakan bebas namun terarah. Dunia kampus adalah dunia yang sangat bebas, lalu kenapa kita masih saja terkungkung dengan euphoria kelulusan sekolah.
Ya… Berteriak… berteriaklah semakin kencang, selalu dan jangan mendayu. Kita adalah sapu, merangsek selalu dengan debu, jadi jangan lagi ada kata ragu. Kita adalah maha, dimana pundak harapan menjadi tangan. Meracau bukan berarti kacau, tapi negeri tak lagi harus diratap sepi.
18 Juli 2008
Dolank
Saturday, July 12, 2008
Malaysia
Mungkin aku telah salah membaca warna hari ini.
Aku pikir merah itu pasti dan biru itu bumi.
Ternyata hanya ada jingga saja!
Dengan kepergian menyelimuti hati di kelam kabut mesra.
12 juli 2008
DolaNk
Aku pikir merah itu pasti dan biru itu bumi.
Ternyata hanya ada jingga saja!
Dengan kepergian menyelimuti hati di kelam kabut mesra.
12 juli 2008
DolaNk
Thursday, July 10, 2008
Yang Lalu dan Hari Ini
Kata gie dalam sebuah tulisannya mati muda adalah sebuah hal yang membahagiakan. Benarkah begitu adanya dengan kami yang hidup dikala ini. Dikala damai belum lagi terhidang sebagai pencuci mulut. Dimana waktu tak lagi berpihak pada kebenaran. Dan segala asa belum lagi membosankan.
Aku ingin hidup seribu tahun lagi kata chairil seolah ingin membalas tulisan gie, menegaskan bahwa aku tidak hanya ingin melihat damai hanyalah sebuah utopia. Aku ingin melihatnya sekali lagi, bukan hanya dalam mimpi manis siang ini.
Semangatilah kami selalu kawan, dengan semangat seribu tahunmu, ataupun mati yang membahagiakan itu. Karena kami disini hanyalah tunas-tunas muda penerusmu yang masih terdiam pasif mengetahui setiap gejala mudamu. Bahwa perang ini haruslah berhenti adalah masih menjadi harap kami di kemudian hari.
11 Juli 2008
Dolank
semakin muak dengan perang hari ini
Aku ingin hidup seribu tahun lagi kata chairil seolah ingin membalas tulisan gie, menegaskan bahwa aku tidak hanya ingin melihat damai hanyalah sebuah utopia. Aku ingin melihatnya sekali lagi, bukan hanya dalam mimpi manis siang ini.
Semangatilah kami selalu kawan, dengan semangat seribu tahunmu, ataupun mati yang membahagiakan itu. Karena kami disini hanyalah tunas-tunas muda penerusmu yang masih terdiam pasif mengetahui setiap gejala mudamu. Bahwa perang ini haruslah berhenti adalah masih menjadi harap kami di kemudian hari.
11 Juli 2008
Dolank
semakin muak dengan perang hari ini
Saturday, July 5, 2008
KapabiLitas
Keterikatan masyarakat Indonesia akan sebuah sosok sepertinya tidak dapat dilepaskan begitu saja. Bagaimanapun juga seseorang yg pernah berarti memang akan selalu berarti, namun apakah begitu juga yang akan terjadi bila kapabilitas telah meluntur dan logika berbicara.
Sebuah ironi kebangsaan terjadi ketika kita, generasi muda yang inovatif, religious harus terikat dengan sebuah culture masyarakat yang selalu terikat pada sebuah sosok jaman lama yang terlalu lama terbuai dalam mimpi keemasan.
Tidak jarang ditemukan para kuli tinta mencari pendapat akan suatu kejadian pada seseorang yg buta, dan anehnya sibuta berbicara begitu yakinnya seolah olah kejadian ini ialah gambaran seekor gajah yang terpampang jelas di depan matanya yang telah butut. Dan di antara keanehan yang telah ada masih saja ada orang aneh yang juga tersugesti dengan mempercayai kata-kata dari seseorang yang tak mempunyai kapabilitas untuk berbicara.
Tulisan ini tidak pernah terbersit untuk mendiskreditkan orang-orang cacat. Sindiran pada kaum loyalitas tingkat aneh lebih tepatnya. Bahwa tingkatan religious bukan berarti sebagai pemuncakan banyak hal, karena kami hidup di bumi dan bumi adalah tempatnya hal” logis berbicara.
Sebuah ironi kebangsaan terjadi ketika kita, generasi muda yang inovatif, religious harus terikat dengan sebuah culture masyarakat yang selalu terikat pada sebuah sosok jaman lama yang terlalu lama terbuai dalam mimpi keemasan.
Tidak jarang ditemukan para kuli tinta mencari pendapat akan suatu kejadian pada seseorang yg buta, dan anehnya sibuta berbicara begitu yakinnya seolah olah kejadian ini ialah gambaran seekor gajah yang terpampang jelas di depan matanya yang telah butut. Dan di antara keanehan yang telah ada masih saja ada orang aneh yang juga tersugesti dengan mempercayai kata-kata dari seseorang yang tak mempunyai kapabilitas untuk berbicara.
Tulisan ini tidak pernah terbersit untuk mendiskreditkan orang-orang cacat. Sindiran pada kaum loyalitas tingkat aneh lebih tepatnya. Bahwa tingkatan religious bukan berarti sebagai pemuncakan banyak hal, karena kami hidup di bumi dan bumi adalah tempatnya hal” logis berbicara.
30 juni 2008
Dolank
Dolank
Subscribe to:
Posts (Atom)