Tuesday, May 5, 2009

Jendela

Begitu anehnya kamu, berdiri sendiri dibalik aksara-aksara penuh makna. Hitamnya tinta dan putihnya kertas kau beri warna dengan tingkah pola rajutan akalmu dalam berkarya. Ada raga yang terbang, ada yang juga terlunta, ada asmara pergolakan massa juga cerita cinta tua dan muda. Begitu hidup merangkumkan jiwa kami yang terpana.

Gairahmu hujan hari ini, yang menenggelamkan kami dalam dunia kritis terkadang romantis.


Tapi sampai kini rupa-rupanya sosokmu masih ada di awang-awang kami, orang-orang desa dalam lingkup negeri tanpa tapal batas. Tanpa ilmu yang dapat menghampiri bakat alammu. Hanya melalui jendela ini kami bisa memandangmu, mengukur tinggi dan beratmu dari benda disekitarmu. Dari jendela negeri tanpa tapal batas.


Untuk kawanku
Dolank
4 Mei 2009

Wednesday, April 15, 2009

Bumi

Bumi

Kata orang bumi identik dengan biru, dan biru identik dengan damai. Sementara itu damai yang kami pijak hari ini adalah bumi yang tak lagi berwarna biru.

Ada juga yang berpikir bahwa biru itu adalah langit, dan langit identik dengan tinggi. Sementara itu langit yang kami kenal hari ini hanyalah petinggi-petinggi yang tak lagi berpijak di bumi.

Sebagian kecil bahkan sempat berpikir bahwa laut adalah gambaran bumi. Berwarna biru dan menjunjung langit yang tinggi.

Sementara kami..

Telah membiru dan terbujur kaku diatas bumi yang biru dan langit yang tinggi.

04sept08
Dolank

Saturday, April 4, 2009

Urbanisasi


Mereka menggeliat lagi, berduyun duyun membarakan langit kota. Ada kebebasan diramainya metropolis yang menghinggapi otakmu dan semakin membesarkan niatmu dalam tiap derap langkah yang bersemangat. Aku dengar peluh kalian, ada asa dalam setiap tetesnya. Walau kemerdekaan terkadang kulihat telah memberikan garis demarkasinya untukmu.
Hai orang orang urban pekikku menyadarkan mereka diatas batu tapal batas desa, tapi tak ada yang bergeming. Tidak ada lagi mimpi disana, tidak ada lagi nasib ataupun takdir yang kau pikir bisa berubah dengan hanya merubah garis tanganmu dengan sedikit kasar ataupun kapalan karena giatmu.
Peluhmu tak lagi punya nyawa hai orang- orang urban. Peluhmu tak lagi bisa berbuat banyak di tanah ini. Peluhmu tak lagi bisa bicara. Jangan merengekkan arogansimu dihadapan kota, karena kota lebih berpengalaman untuk meneriakkan arogansinya untukmu.
Dolank
24 maret 2009

Sunday, March 22, 2009

Menggigil

Derapku masih melaju, walau terkadang gontai dan sesekali terjatuh. Tapi tubuh tempatku melelahkan diri masih mengaum, masih ingin terluka, luka terbuka. Sebab darahku masih biru, aku ingin oksigen bercampur dengannya, bukan cuma racun dari tembakau bakar yang berencana menturbulensi alirannya.
Warna tubuhku masih hitam, membiaskan segala senyuman, merendahkan warna kesucian. Masih gahar menentang tatapan para pekerja kasar dan kuli bangunan. Bersama remang kutikamkan amarahku.
Marahku semakin melintasi malam. Rangkul aku kawan, tapi jangan dengan cinta!

Dolank
22 Februari 09

Tuesday, February 17, 2009

Merusak Diri

Menjadi orang dari 4-5 tahun yang lalu, benar diluar dugaan saya sewaktu 4-5 tahun lalu ketika ini. Masih berkutat dengan dunia yang orang bijak juga banyak melaluinya. Masih tenggelam dalam dunia yang dipenuhi keroco-keroco sombong yang tanpa batas, yang menyalak ketika ramai kalau tidak sedang berada dalam kandang kecil yg cukup memuaskannya.
Orang-orang dari 4-5 tahun yg lalu pun masih sama dengan orang-orang yg mengelilingi dengan setianya hingga kini. Masih punya taring, masih punya wibawa, dan akal yang jauh lebih tajam daripada ketika dahulu, 4-5 tahun yang lalu. Lalu mengapa kami tak menguasai dunia lagi.
Saya benar-benar terbawa arus perasaan, yang semestinya dihentikan sejak lama. Dibuainya hingga mabuk yang memuntahkan, benar-benar dimabukkan hanya oleh beberapa botol bir, ataupun secuil tembakau bakar. Terkadang hingga membakar kepalan tangan ketika melihat jumawa para remaja tanggung yg ingin membuktikan diri, sama seperti saya 4-5 tahun yg lalu.
Dolank
17 feb 2009

Friday, February 6, 2009

Meragu dan Lalu

Ingin aku bercerita lagi, tentang ujian-ujian yang semakin aku tak mengerti ini ataupun tentang semangat yang semakin berapi-api. Tentang malam-malam yang semakin sepi juga seringnya perempuan menggoda hati.

Tetapi ketika aku memandang sejenak, jauh keluar jendela kamar, yang terhampar hanyalah ruang dan waktu. Kamu semakin berlalu dan mungkin juga menjauh. Hanya ada rindu yang bergemuruh. Rindu aku denganmu.

9 Jan 08

Dolank

Monday, January 5, 2009

Universitas Serba Ada

Begitu aneh rasanya memang, kami yang tersebut sebagai mahasiswa yang dalam hal ini berperan sebagai kaum mayoritas dalam sebuah institusi harus mengalah dengan pendapat kaum minoritas didalam institusi yang sama. Tidak dipungkiri bila terkadang minoritas tidak selalu salah dan mayoritaspun tak selalu benar, tapi yang pasti mimpi bukan untuk anak para konglomerat saja.
Rektor yang semakin membiaskan dirinya dengan berprilaku seperti pedagang toko kelontong yang hanya memikirkan untung dan untung saja. Para lulusan sarjana ekonomi di DPR yang semakin lupa dengan dinamika perkuliahan, atau mungkin mereka tak pernah mengenyam bangku kuliah hingga mudah saja untuk berkata ya.. ya.. saja atau berdiam diri pura pura tertidur ketika kepentingan umum diwacanakan.
Konon katanya, di tanah ini semua bisa dibeli, mulai dari tetek bengek dapur hingga sebuah tingkat kesarjanaan. Berdasar dari itupulalah mengapa pemimpin dari sebuah perguruan tinggi terkadang berprilaku seperti pedagang toko kelontong yang menjual segala jenis kebutuhan. Dan kami mahasiswa seperti juga masyarakat, hanya ada pilihan membeli atau mencari toko kelontong lain dengan harga yang sedikit berbeda, tentunya dengan waktu dan tenaga yang lebih ekstra namun berakhir dengan biaya yang hampir sama saja.
Hei pelajar, jangan hanya berdiam diri saja, menetek manja dengan guru-gurumu sementara kami disini memperjuangkanmu, memperjuangkan mimpi-mimpimu untuk 2009 nanti. Karena hal ini tak berpengaruh sama sekali untuk kami. Tapi untukmu, selamat bermimpi.
17 des 2008
Dolank