Saturday, April 4, 2009

Urbanisasi


Mereka menggeliat lagi, berduyun duyun membarakan langit kota. Ada kebebasan diramainya metropolis yang menghinggapi otakmu dan semakin membesarkan niatmu dalam tiap derap langkah yang bersemangat. Aku dengar peluh kalian, ada asa dalam setiap tetesnya. Walau kemerdekaan terkadang kulihat telah memberikan garis demarkasinya untukmu.
Hai orang orang urban pekikku menyadarkan mereka diatas batu tapal batas desa, tapi tak ada yang bergeming. Tidak ada lagi mimpi disana, tidak ada lagi nasib ataupun takdir yang kau pikir bisa berubah dengan hanya merubah garis tanganmu dengan sedikit kasar ataupun kapalan karena giatmu.
Peluhmu tak lagi punya nyawa hai orang- orang urban. Peluhmu tak lagi bisa berbuat banyak di tanah ini. Peluhmu tak lagi bisa bicara. Jangan merengekkan arogansimu dihadapan kota, karena kota lebih berpengalaman untuk meneriakkan arogansinya untukmu.
Dolank
24 maret 2009

Sunday, March 22, 2009

Menggigil

Derapku masih melaju, walau terkadang gontai dan sesekali terjatuh. Tapi tubuh tempatku melelahkan diri masih mengaum, masih ingin terluka, luka terbuka. Sebab darahku masih biru, aku ingin oksigen bercampur dengannya, bukan cuma racun dari tembakau bakar yang berencana menturbulensi alirannya.
Warna tubuhku masih hitam, membiaskan segala senyuman, merendahkan warna kesucian. Masih gahar menentang tatapan para pekerja kasar dan kuli bangunan. Bersama remang kutikamkan amarahku.
Marahku semakin melintasi malam. Rangkul aku kawan, tapi jangan dengan cinta!

Dolank
22 Februari 09

Tuesday, February 17, 2009

Merusak Diri

Menjadi orang dari 4-5 tahun yang lalu, benar diluar dugaan saya sewaktu 4-5 tahun lalu ketika ini. Masih berkutat dengan dunia yang orang bijak juga banyak melaluinya. Masih tenggelam dalam dunia yang dipenuhi keroco-keroco sombong yang tanpa batas, yang menyalak ketika ramai kalau tidak sedang berada dalam kandang kecil yg cukup memuaskannya.
Orang-orang dari 4-5 tahun yg lalu pun masih sama dengan orang-orang yg mengelilingi dengan setianya hingga kini. Masih punya taring, masih punya wibawa, dan akal yang jauh lebih tajam daripada ketika dahulu, 4-5 tahun yang lalu. Lalu mengapa kami tak menguasai dunia lagi.
Saya benar-benar terbawa arus perasaan, yang semestinya dihentikan sejak lama. Dibuainya hingga mabuk yang memuntahkan, benar-benar dimabukkan hanya oleh beberapa botol bir, ataupun secuil tembakau bakar. Terkadang hingga membakar kepalan tangan ketika melihat jumawa para remaja tanggung yg ingin membuktikan diri, sama seperti saya 4-5 tahun yg lalu.
Dolank
17 feb 2009

Friday, February 6, 2009

Meragu dan Lalu

Ingin aku bercerita lagi, tentang ujian-ujian yang semakin aku tak mengerti ini ataupun tentang semangat yang semakin berapi-api. Tentang malam-malam yang semakin sepi juga seringnya perempuan menggoda hati.

Tetapi ketika aku memandang sejenak, jauh keluar jendela kamar, yang terhampar hanyalah ruang dan waktu. Kamu semakin berlalu dan mungkin juga menjauh. Hanya ada rindu yang bergemuruh. Rindu aku denganmu.

9 Jan 08

Dolank

Monday, January 5, 2009

Universitas Serba Ada

Begitu aneh rasanya memang, kami yang tersebut sebagai mahasiswa yang dalam hal ini berperan sebagai kaum mayoritas dalam sebuah institusi harus mengalah dengan pendapat kaum minoritas didalam institusi yang sama. Tidak dipungkiri bila terkadang minoritas tidak selalu salah dan mayoritaspun tak selalu benar, tapi yang pasti mimpi bukan untuk anak para konglomerat saja.
Rektor yang semakin membiaskan dirinya dengan berprilaku seperti pedagang toko kelontong yang hanya memikirkan untung dan untung saja. Para lulusan sarjana ekonomi di DPR yang semakin lupa dengan dinamika perkuliahan, atau mungkin mereka tak pernah mengenyam bangku kuliah hingga mudah saja untuk berkata ya.. ya.. saja atau berdiam diri pura pura tertidur ketika kepentingan umum diwacanakan.
Konon katanya, di tanah ini semua bisa dibeli, mulai dari tetek bengek dapur hingga sebuah tingkat kesarjanaan. Berdasar dari itupulalah mengapa pemimpin dari sebuah perguruan tinggi terkadang berprilaku seperti pedagang toko kelontong yang menjual segala jenis kebutuhan. Dan kami mahasiswa seperti juga masyarakat, hanya ada pilihan membeli atau mencari toko kelontong lain dengan harga yang sedikit berbeda, tentunya dengan waktu dan tenaga yang lebih ekstra namun berakhir dengan biaya yang hampir sama saja.
Hei pelajar, jangan hanya berdiam diri saja, menetek manja dengan guru-gurumu sementara kami disini memperjuangkanmu, memperjuangkan mimpi-mimpimu untuk 2009 nanti. Karena hal ini tak berpengaruh sama sekali untuk kami. Tapi untukmu, selamat bermimpi.
17 des 2008
Dolank

Thursday, December 18, 2008

Wajah Bulan Juni

Wajah tanahku di bulan Juni begitu memalukan dan diskriminasi. Pancasila yang coreng moreng menampakkan kecompang-campingannya untuk yang kesekian kalinya. Ketika demokrasi dimerdekakan akan tetapi harus pula mempertanyakan haknya. Ketegasan yang semestinya mutlak, hanya dapat menyediakan kerancuan.
Sementara itu di masyarakat sebuah kesalahpahaman sosial merebak hingga melunturkan atau mungkin lebih tepatnya merendahkan semangat keislaman sekelompok orang. Sesama muslim yang semestinya bersaudara begitu mudahnya merendahkan saudaranya. Ketika budaya islam diperjuangkan oleh kaum minoritas tapi dianggap sebagai pelecehan. Beginikah wajah muslim Indonesia..?
Ketika sebuah kata, yang namanya laskar menjadi sebuah kata yang menjual, bermunculanlah berbagai macam laskar, hal yang sudah biasa di negeri ini. Tapi menjadi memalukan ketika keberanian untuk mati hanya menjadi sebuah ikon yang merebak bagaikan jamur dimusim hujan dari para pemimpin pondok ketika mereka hanya bertujuan untuk menuntut adanya pembubaran dari sekelompok orang yang mencoba berjalan dinegeri yang kecil ini. Namun ketika dihadapkan dengan tanah palestina, golok-golok mereka menjadi pisau dapur, otot-otot hamburger menjadi otot tempe, dan hati yang bagaikan naga menjadi cacing yang meringkuk.
Kita yang semestinya sama-sama berjuang membela yang telah pasti hak-nya, malah tercebur dengan konflik baru demi mendapatkan popularitas sesaat. Atau mungkin konflik lama yang hanya menunggu waktu untuk siap melumat kaum urban negeri ini, yang berani berbicara ketika mulut dikunci. Sementara hati saudaranya yang dikenal mayoritas dikeruhkan biar segala menjadi rancu.
Inilah yang terjadi di negeri kami, negeri dimana surga bagi para ustad yang tak mampu menjaga mulutnya, ketika telinga telah disamarkan, sementara mata dibutakan. Dan menjadi muslim hanyalah ikon yang menjanjikan untuk memulai usaha, bukan sebagai sebuah prinsip yang harus dibela ketauhidannya dan diangkat martabatnya.

Juni 08

Dolank

Friday, December 12, 2008

Nengkono Nengdi


Seorang karib telah bertanya, “apa itu perawan punten?” Lalu dengan ringannya kujawab, “mungkin saja ia seorang perawan berbentuk punten”. Sang teman lalu bertanya lagi, “Lalu jika ia perawan, apakah ia seorang wanita pada umumnya?” Kujawab juga begini, “Bukan, melainkan ia ialah bidadari”. Sang teman lalu bertanya lagi, “berarti perawan punten berada di surga!?” “Tentu saja tidak, karena surga hanya untuk orang tua dan penguasa, sementara saya bukan siapa-siapa yang mampu mengenal surga”, jawabku agak panjang.Sang karib itupun bertanya lagi untuk kesekian kalinya dengan mimik yang mulai kebingungan, “Sebenarnya perawan punten itu apa, manusia atau bidadari?” Akupun lalu menjelaskan, “Begini saja, jika kamu melihat matahari telah berada di ufuk timur, maka itulah perawan punten, jika kamu melihat pelangi di langit barat maka itulah perawan punten, jika kamu melihat melati digurun gersang maka itulah perawan punten, dan jika kamu melihat bidadari di kedua matamu maka itulah perawan puntenmu, sementara itu jika kamu melihat perawan puntenku maka titipkanlah salamku untuknya kawan”.
May 2006
Dolank