Monday, January 5, 2009
Universitas Serba Ada
Thursday, December 18, 2008
Wajah Bulan Juni
Sementara itu di masyarakat sebuah kesalahpahaman sosial merebak hingga melunturkan atau mungkin lebih tepatnya merendahkan semangat keislaman sekelompok orang. Sesama muslim yang semestinya bersaudara begitu mudahnya merendahkan saudaranya. Ketika budaya islam diperjuangkan oleh kaum minoritas tapi dianggap sebagai pelecehan. Beginikah wajah muslim Indonesia..?
Ketika sebuah kata, yang namanya laskar menjadi sebuah kata yang menjual, bermunculanlah berbagai macam laskar, hal yang sudah biasa di negeri ini. Tapi menjadi memalukan ketika keberanian untuk mati hanya menjadi sebuah ikon yang merebak bagaikan jamur dimusim hujan dari para pemimpin pondok ketika mereka hanya bertujuan untuk menuntut adanya pembubaran dari sekelompok orang yang mencoba berjalan dinegeri yang kecil ini. Namun ketika dihadapkan dengan tanah palestina, golok-golok mereka menjadi pisau dapur, otot-otot hamburger menjadi otot tempe, dan hati yang bagaikan naga menjadi cacing yang meringkuk.
Kita yang semestinya sama-sama berjuang membela yang telah pasti hak-nya, malah tercebur dengan konflik baru demi mendapatkan popularitas sesaat. Atau mungkin konflik lama yang hanya menunggu waktu untuk siap melumat kaum urban negeri ini, yang berani berbicara ketika mulut dikunci. Sementara hati saudaranya yang dikenal mayoritas dikeruhkan biar segala menjadi rancu.
Inilah yang terjadi di negeri kami, negeri dimana surga bagi para ustad yang tak mampu menjaga mulutnya, ketika telinga telah disamarkan, sementara mata dibutakan. Dan menjadi muslim hanyalah ikon yang menjanjikan untuk memulai usaha, bukan sebagai sebuah prinsip yang harus dibela ketauhidannya dan diangkat martabatnya.
Juni 08
Dolank
Friday, December 12, 2008
Nengkono Nengdi
Friday, November 28, 2008
Cahaya
Aku lupa menulis cinta.
Seperti yang pernah tertulis dahulu apa itu cinta, hanya sebuah kata dalam kamus hitamku. Menuliskannya hanya akan menghitamkan jalanku seperti pekatnya kamus itu. Menggoreskannya hanya akan membuaikan lelap tidurku hingga terlupa dengan realita.
Aku hanya ingin menuliskan kamu. Bukan yang lainnya. Karena tak ada yang lebih bercahaya ketika pena menari diatas kertas selain kawan dan tentu saja juga kamu.
Tapi ketika ini, ketika penaku menggoreskan kamu, hanya ada kata, jauh.
22 November 2008
Dolank
Tuesday, November 25, 2008
Tuan
Aku telah lihat kemiskinan kota ini, sementara beberapa tahun lalu kulihat juga kemiskinan dikota yang sana. Beberapa bulan setelahnyapun telah kulihat juga kemiskinan kota yang lainnya. Dan kau tahu apa yang kupikirkan…
Sudahlah tuan, jangan kau palingkan mukamu seperti kau punya kesibukan yang lebih penting daripada selain tidur dan bersenggama. Kau pasti tau apa yang kupikir, sesuatu yang pasti kau pikirkan juga. Hanya saja…
Ya, hanya saja kau terlalu takut untuk menyuarakannya tuan. Atau mungkin karena kau bingung akan menyuarakan pada siapa lagi, bukankah kau adalah yang tertinggi. Jadi lebih baik diam dan tersenyum, karena diam adalah wibawamu, dan senyum adalah karismamu. Kalau begini, maka…
Baiklah tuan akan kusuarakan suara hatimu dan hatiku serta beberapa hati yang lainnya, agar kita sama-sama tau. Kamu, aku dan yang lainnyapun tau. Kalau kemiskinan itu, kaalau keemiskiinan ituu, kaalaauu keemiissskiinnaan iitu, ternyata adalah lumrah. Karena hati kita. Aku, kamu, dan beberapa hati yang lainnya pun telah jadi miskin pula!!!
(Maaf karena masih belum bisa berbuat lebih untuk kalian saudaraku).
20 November 2008
Dolank
Monday, November 24, 2008
Peluh
Badan kita bukan otot yang terdiri dari besi dan baja kawan, jangan kau lalai dengan tubuhmu, karena aku tak mungkin melindungimu dari depan. Keberanian bukan milikku, dan kelihaian juga bukan kodratmu.
Kulihat kau hampir lelah kawan, tapi jangan pernah ragu karena aku pasti menopangmu untuk berdiri dan menantang lagi. Masih banyak musuh yang menghadang, jadi jangan lupa cadangkan tenaga untuk lari atau mungkin juga mati.
Peluhmu begitu deras kali ini kawan, lebih dari hari kemaren, apakah esok hari kau masih mampu berpeluh didepanku…
(Utk kawan muda hingga tuaku).
19 Nov 08
Dolank
Wednesday, November 19, 2008
3 Kata
Sesuatu yang gelap selalu kami identikkan dengan dingin, dan bahkan hingga mencekam. Hingga menyimpullah menjadi malam, kawan setia keluh kesah kami. Begitu pula dengan yang lainnya dalam memandang kami. Hanya ada…
Gelap
Dingin
Mencekam
Kami yang semestinya menjadi subjek daripada gelap, dingin dan mencekam ini dengan begitu mudahnya mereka faktakan menjadi sebuah objek fantasinya, bahwa disetiap malam akan ada gelap dingin dan mencekam yang mengintip dari balik terali-terali besi mereka.
Identitas.
Ya hanya itu sajalah identitas yang kami miliki, jadi jangan harap ada nama, umur ataupun status social selain daripada gelap dingin dan mencekam. Bahkan identitaspun bukan milik kami, hanya datang dari jiwa yang terdepresi milik mereka.
Dan begini sajalah kami, jika bekerja dianggap gelap, jika terdiam dikata dingin dan jika menentang dipandang mencekam. Kami tak lagi dapat berbuat lebih selain daripada jengah!!
1 Oktober 2008, 12.16 am
Dolank